Skip to content

>Gosip

12/07/2010

>

Gosip
Oleh: UP. Dharma Mitra Peter Lim



Satu hal yang paling disukai oleh manusia adalah membicarakan kelemahan / kekurangan orang lain. Semuannya ini berlaku bagi semua tingkat usia, baik usia muda, remaja maupun ujsia lanjut. Membicarakan kelemahan/kekurangan orang lain ini, istilah kerennya dikenal dengan sebutan “GOSIP”. Umumnya ungkapan ini tercetuskan karena adannya rasa iri/dengki atas keberhasilan orang lain. Gosip bisa dikategorikan sebagai “bisa” yang meracuni setiap orang, dan dapat menimbulkan kehancuran bagi siapapun. Ia bisa saja menjatuhkan pemerintahan, dengan aneka ragam cerita palsu, yang tak pantas diutarakan. Di dalam suatu rumah tangga yang awalnya aman dan damai, juga bisa mengalami kehancuran akibat dari gosip, yang tidak bertanggung jawab ini. Keberadaannya, umunya mmeninggalkan rasa curiga, kesedihan yang berlarut-larut adn tangisan yang tanpa hentinya. Ia merupakan berita itama dimana mana. Sebagai siswa Sang Buddha yang menyakini hukum Karma, apakah hal ini pantas dilaksanakan…? Sang Budda bersabda : “Yam Mammam Karissanti Kalyanam Va Papakamva Tassa Dayada Bhavissanti artinnya apapun perbuatan yang diperbuat, baik atau buruk, itulah yang akan diwarisi.”

Didalam Dasa Akusala Karma (10 perbuatan jahat) gosip termasuk salah satu dari perbuatan jahat, yang dilakukan melalui ucapan, termasuik dalam hal ini adalah dusta, perguncingan, bicara kasar dan omong kosong. Pelaku perbuatan ini akan menerima akibat : a) Tidak dipercayai, menjadi sasaran penghinaan dan selalu dimusuhi, b). Tidak akan memiliki sahabat yang baik/sejati, c) Senantiasa difitnah.dicurigai, d) Tidak memiliki wibawa dan bicara tidak tegas.

“Jangan kasar kepada orang lain sebab orang yang dikasari akan membakas dengan kasar pula. Sebenarnya perkataan kasar itu menyakitkan hati orang lain dan andapun akan sakit hati bila menerima pembalasannya” – DHAMMAPADA DANDA VAGGA X : 133. Bagaimanasebaiknya kita bertindak, sebelum gosip itu tercetuskan..? Sebelumnya kita mengulang suatu cerita, bertanyalah kepada diri sendiri akan benar tidaknya cerita ini. Dan wajarkah diutarakan..? Pantas/ perlukah diceritakan..? Bila tidak maka sudah seharusnya kita TUTUP MULUT ! Kalau dasar utamannya kita menyebarkan gosip adalah karena iri/dengki atas keberhasilan orang lain. Alangkah bodohnya….? Sang Buddha bersabda ” Dosena Hi Candajatataya Dosasadisam Nitrayam Uppajjanti artinnya semua makhluk di tumimba lahirkan di alam neraka dengan kekuatan kebencian” Inginkah kita terlahirkan di alam neraka hanya dikarenakan keberhasilan orang lain…? Seharusnnya sebagai siswa Sang Buddha, kita bangga dan salut atas keberhasilan orang lain. Ini bisa dijadikan suatu intropeksi danb motivasi diri, untuk berjuang lebnih giat di masa mendatang. Dia mampu/bisa berhasil, mengapa kita tidak ..? Bukankah seperto yang telah diajarkan oleh Sang Buddha bahwa pada hakekatnnya semua manusia memiliki kemampuan dan kemandirian..? yang membedakan antara manusia pertama dengan yanglainnya hanyalah terletak pada KARMA (Perbuatan) yanga telah diperbuat ! Kalau anda hari ini gagal dan orang lain berhasil. Apakah kita harus frustasi/kecewa sehingga timbul rasa iri/dengki kepadanya…? Jika ini terjadi berarti kita masih kekanak-kanakan. Kapan kita baru bisa mencapai kedewasaan diri…? Ingatlah selalu akan sabda Sang Buddha : “Perbuatan tercela menimbulkan penyesalan. Setelah berbuat demikian ia menangis karena pada saat itulah ia memetik buah perbuatannya.”

Agar gosip tidak tercetuskan pada diri kita maka pertama-tama, haruslah meningkatkan kualitas (mutu), ilmu dan ketrampilan. Ingatlah selalu bahwa tiada batasan waktu untuk usia dewasa, kita menimba ilmu dari agama Buddha cuma satu yaitu “hiri : malu berbuat jahat”. Selagi tujuan dan niat kita baik maka sudah sepantasnya maju terus. Kedua, kita harus berani membuka diri, untuk dikritik dan jangan selalu ingin dipuji, walaupun harus diakui sejujurnya, siapa sih yang nggak senang dipuji…? Hidup jika tanpa adanya kritikan maka sampai kapanpun, kita tidak akan pernah maju. Apakah mungkin bisa melihat kekurangan/kesalahan diri sendiri? Yang mampu menilai baik/buruk dan benar/salahnya diri kita adalah orang lain! Kalaupun ada orang yang mengaku dirinya baik dan benar. Itu sih namanya SOK/EGOIS atau kasarnya dikatakan MUNAFIK! Seperti yang disabdakan oleh Sang Buddha : “Hidup adalah mudah bagi orang menonjolkan diri seperti burung gagak, suka menfitnah, tidak tahu sopan santun, pengah dan menjalankan hidup kotor”. Ketiga : belajarlah dari keberhasilan orang lain. Datangi dia dan ucapkan selamat atas keberhasilannya. Milikilah sifat “mudita : simpati / bahagia atas kebahagiaan / keberhasilan orang lain”. Apa sih rahasia keberhasilannya…? Apakah keberhasilannya karena ketekunan, kegigihan atau keseriusan, didalam melakukan usaha atau ada faktor-faktor lainnya…?

Jika kita mengetahui dengan jelas keberhasilan seseorang karena faktor-faktor yang positif (baik),itukan tidak ada salahnya kita mencoba…? Milikilah selalu keyakinan yang positif, jika dia bisa maka akupun harus bisa! ‘khan sama-sama makan nasi. Kesuali dia makan krikil, batu bata, aspal, paku dan lain-lain… maka terpaksa kita harus menyerah kalah dan bukan berarti menyemai bibit-bibit kebencian di hati sanubari. Keempat : haruslah selalu dicamkan baik-baik bahwa semua makhluk, pada dasarnya adalah saudara dengan kita. Diantaranya sekian banyak tumimbal lahir yang dialami maka tidaklah tertutup kemungkinan, dia itu prenah menjadi ayah, ibu, suami/istri, anak, saudara kita. Apakah logis dikelarihan sekarang, di saat keberhasilannya, timbul perasaan iri/dengki…? Ingatlah selalu bahwa tujuan utama disekitar kita dan BUKANLAH untuk dicengkram oleh sifat iri/dengki. Renungkanlah apakah keberhasilan itu pasti memberikan kebahagiaan…? Belum tentu, jika dia tidak PUAS! Kepuasan akan apa yang telah dimiliki, itulah yang bisa mendatangkan kebahagiaan dan ketentraman hidup. Oleh Sang Buddha disabdakan : “Kita hidup BERBAHAGIA karena bebas dari IKATAN bagaikan dewa yang bersinar terang. Demikianlah kita hidup tenang dan bahagia”. Setelah menyadari hal-hal negatif yang akan ditimbulkan oleh gosip maka sudah seharusnya kita menghindarinya. Selalulah berpikir, berucap dan bertindak tanpa menimbulkan penderitaan bagi siapapun juga.

Kesimpulan:
Hindarilah yang namanya “gosip” didalam kehidupan ini. Ia merupakan “bisa” yang mampu meracuni setiap orang. Kehadirannya pasti menimbulkan masalah yang tidak diinginkan oleh siapapun juga. Ingat, sebelum suatu hal diutarakan/diceritakan, renungkan terlebih dahulu apakah hal ini pantas atau tidak untuk disampaikan…? bila tidak maka sudah sepantasnya TUTUP MULUT! “Sabbe Satta Sabbadukkha Pamuccantu – Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata : Semoga semua makhluk terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia. Sadhu….., Sadhu….., Sadhu…..”


Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: