Skip to content

>Mengapa Harus Di Sini

28/09/2010

>



Mengapa Harus Di Sini

Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Vijito




Pada hari ini, kita semua telah hadir di sini untuk mendengarkan Dhamma, mendengarkan Dhamma adalah salah satu berkah utama, sambil mendengarkan Dhamma kita berusaha untuk membuat tubuh tegak dalam sikap duduk dan pikiran berusaha berkonsentrasi. Pada jaman Sang Buddha, orang mendengarkan Dhamma dengan penuh perhatian; duduk bersila sambil memejamkan mata, mengawasi pikiran, mengontrol pikiran, menyadari, bahwa tempat ini sesuai untuk mendengarkan Dhamma, melatih pikiran, dan mengetahui, mengapa kita berkumpul di sini.
Kadang-kadang kita tidak mau menyadari, kita tidak mau tahu, mengapa kita di sini ..?. Kita tidak mengerti apa yang seharusnya dimengerti, dengan kata lain kita tidak tahu benar-benar bagaimana sebenarnya sesuatu itu atau sesuatu itu sebenarnya apa.
Marilah saat ini kita menenangkan diri, jangan resah dan bingung, orang yang telah mencapai pencerahan telah menjelaskan bagaimana sebenarnya mengendalikan pikiran yang terombang-ambing, tujuan kita datang di sini untuk mendengarkan Dhamma, melatih pikiran, mengawasi pikiran, selanjutnya kita berusaha mengembangkan ketenangan batin, cinta kasih dan kasih sayang kepada semua makhluk hidup.
Mengamati, memeriksa di dalam diri adalah hal yang terpenting, kita harus berjaga-jaga terhadap tindakan, ucapan, dan bentuk-bentuk pikiran. Sebagaimana tindakannya, begitu juga hasil yang akan terjadi, sama seperti benih yang ditanam, begitu pula buah yang akan dipanen, sebagaimana tindakan-tindakan kita, begitu juga buah tindakan kita.Di manakah kita harus berjaga-jaga..?. Pada tindakan fisik ucapan dan pikiran. Dalam kehidupan umum kita begitu banyak mementingkan tindakan fisik ,kita kurang memperhatikan pentingnya tindakan ucapan dan hampir tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap tindakan pikiran. Bila sesuatu muncul dalam pikiran, mau diapakan ..?. Tetapi setelah kita menyadari kebenaran dalam diri, hukum kebenaran itu akan mulai menampakkan dirinya. Hukum kebenaran akan menjadi sangat jelas sehingga tindakan pikiranlah yang menjadi sangat penting. Bukan tindakan fisik dan bukan tindakan ucapan.
Bila kita selalu waspada terhadap tindakan pikiran kita, kita tidak perlu mencemaskan perbuatan fisik maupun ucapan; secara teratur perbuatan fisik maupun ucapan akan menjadi baik karena segalanya dimulai dari dalam pikiran lebih dahulu. Semua tindakan dimulai dari pikiran, ketika pikiran menjadi menguat dan makin menguat maka tindakan itu lalu mewujudkan diri sebagai tindakan ucapan, jika bertambah menguat dan makin menguat maka tindakan itu akan mewujudkan diri sebagai tindakan fisik. Segalanya dimulai dari dalam pikiran, karena itu tindakan pikiran adalah yang paling penting. Pikiran mendahului segalanya. Setiap tindakan dimulai dari pikiran dulu, baru setelah itu ada di tingkat ucapan atau fisik. Oleh sebab itulah maka pikiran itu paling penting.
Pikiran mempunyai arti yang penting. Apapun yang dialami orang dalam kehidupan ini; menyenangkan, tidak menyenangkan, baik, buruk atau apapun sebutannya, apapun yang dialami orang dalam kehidupan, semuanya tidak lain tidak bukan hanyalah produk pikiran. Jika seseorang melakukan suatu tindakan pada tingkat fisik atau ucapan dengan dasar pikiran yang tidak murni, berarti dasarnya salah atau tidak murni maka kesengsaraan akan terus menerus mengikuti kemanapun orang itu pergi, dari tempat ini ke tempat lainnya, dari bumi ini ke bumi lainnya; kemanapun kita pergi tidak ada hal lain kecuali kesengsaraan dan penderitaan. Penderitaan akan selalu mengikutinya seperti roda pedati yang selalu mengikuti kuda yang diiikatkan pada pedati itu karena kuda itu terikat pada pedati maka kemanapun kuda itu lari maka roda itu akan terus mengikuti dan terus mengikuti.
Bila seseorang melakukan tindakan fisik atau ucapan dengan dasar pikiran yang murni, maka hanya kebahagiaan yang akan mengikutinya, kemanapun kita pergi, kebahagiaan ada di sini seperti bayang-bayang yang selalu mengikuti.
 
Pikiran adalah dasar yang paling penting, jika dasarnya murni maka semua tindakan kita apapun bentuknya akan memberikan dan membawa buah-buah yang baik saja, tetapi jika dasarnya tidak murni maka hasilnya atau buahnya pasti jelek, sekarang akan menderita di sini dan terus menderita di masa yang akan datang. Jika melakukan tindakan-tindakan yang baik, seseorang akan bahagia di sini dan di masa yang akan datang.
Tidak ada kekuatan di luar yang dapat melakukan semua hal itu karena hukum kebenaran memang demikian. Semakin dalam kita menyadari hukum kebenaran ini, maka kita semakin mengerti dan tidak akan melakukan apapun yang akan membuahkan kesengsaraan bagi kita. Kita hanya akan melakukan hal-hal yang akan membawa kedamaian bagi kita. Beginilah hukum kebenaran itu, hanya bisa terjadi jika mengamati perasaan yang paling kasar menuju yang paling halus, lalu seluruh hukum itu menjadi jelas.
Kita harus berhati-hati terhadap tindakan-tindakan kita, tindakan-tindakan mental kita, tetapi orang tidak dapat berhati-hati terhadap tindakan pikiran kecuali jika kita memahami apa pikiran itu, dan bagaimana pikiran bekerja. Dengan latihan kesadaran yang bergerak dari kepala ke kaki, kita hanya menjelajahi kebenaran yang berhubungan dengan tubuh, selain itu kita harus menjelajahi kebenaran yang berhubungan dengan pikiran; bila kita sudah lebih maju lagi akan lebih jelas bagaimana seharusnya seluruh fenomena materi-batin itu, dan bagaiamana pengalaman itu bekerja .
Di mana tempatnya dan apa hasilnya ..?. Hasilnya Dhamma muncul, ia muncul bersama pengertian dan pengetahuan kita. Semua orang bisa dan mampu mengerti Dhamma, ini bukanlah sesuatu yang harus dicari di buku, kita tidak harus banyak belajar untuk bisa melihatnya ,renungkanlah sekarang uraian di bawah ini tentang kesadaran ,perasaan, bentuk-bentuk pikiran dan pencerapan. Semua ini ada di dalam diri tubuh kita yang tidak kekal, keinginan yang timbul itu semua telah bekerja dan kontak dengan indria kita; tugas kita sekarang hanya mengamati, menyadari memeriksa, menganalisa, memilah-milah, membagi-bagi, memahami, tidak mengikat, tidak melekat, tetapi ketaka melepas, melepas sesuatu yang muncul, ulangi berkali-kali, sampai kita mampu melihat dengan jelas.

[ Dikutip dari Gema Dhammavaddhana Edisi 7

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: